5 SAHABAT
5 SAHABAT
Di sebuah kota kecil, di antara jalanan yang tak pernah berubah, ada lima gadis yang tumbuh bersama. Mereka mengenal satu sama lain sejak kecil, berbagi tawa, air mata, rahasia, dan impian.
Aliesha Velyncia—
Asteria Vishaka—
Atisha Genevieve—
Delula Soraya—
Adnyani Keshwari—
Persahabatan mereka seperti musim. Kadang cerah, kadang mendung, kadang penuh badai. Tapi, satu hal yang pasti, mereka selalu menemukan jalan untuk kembali.
Hari itu, mereka duduk melingkar di taman kecil di belakang rumah Atisha. Tempat yang dulu selalu jadi ‘markas’ mereka setiap pulang sekolah. Rumputnya masih hijau, bangku kayunya masih ada, tapi ada sesuatu yang berbeda—mereka sudah lama tidak berkumpul di sini.
“Aku ngerasa aneh,” kata Delula, memainkan ujung rambutnya. “Kita udah lama nggak kayak gini, ya?”
“Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kita ngobrol bareng tanpa terganggu sama kesibukan masing-masing,” tambah Aliesha, menghela napas.
“Atisha, dulu lo yang paling sering ngajakin kita ke sini. Kok sekarang malah diem aja?” Asteria melirik ke arah Atisha yang sejak tadi hanya menatap langit.
Atisha tersenyum kecil, lalu menoleh ke mereka. “Aku cuma mikir... Apa kita bakal selalu kayak gini? Atau ini cuma momen langka yang nanti bakal kita kenang sebagai ‘dulu kita sahabatan’?”
Hening sejenak.
Adnyani menatap mereka satu per satu. “Aku yakin kita tetap sahabat. Meskipun sibuk, meskipun jarang ketemu, persahabatan kita nggak akan pudar.”
“Tapi kalau kita nggak usaha buat tetep deket, bisa aja kita jadi asing,” kata Aliesha. “Aku nggak mau suatu hari nanti kita cuma saling lihat di sosial media, terus nggak ada obrolan sama sekali.”
Asteria menyandarkan tubuhnya ke bangku kayu, menatap langit yang mulai berwarna jingga. “Aku juga nggak mau. Kita udah terlalu banyak melewati hal bersama. Mustahil buat ninggalin semuanya gitu aja.”
Delula tiba-tiba berdiri, tangannya mengepal. “Kalau gitu, kita bikin janji lagi! Kayak waktu kita kecil!”
Atisha tertawa kecil. “Janji apa? Dulu kita pernah janji bakal tetap sahabatan selamanya, tapi kenyataannya kita mulai jarang ketemu.”
Adnyani tersenyum, lalu menggenggam tangan Atisha. “Tapi kita masih di sini, kan? Kita masih peduli, itu yang penting.”
Aliesha mengangguk. “Oke, kita buat janji. Nggak peduli seberapa sibuk kita, kita harus tetap nyempatin waktu buat kumpul. Minimal setahun sekali, entah di mana.”
Asteria meraih tangan Aliesha, lalu menumpukkan tangannya di atasnya. “Setuju.”
Delula dan Atisha menyusul, diikuti Adnyani.
“Janji.”
Mereka tersenyum, merasakan kehangatan yang dulu pernah mereka rasakan. Malam itu, persahabatan mereka bukan hanya kata-kata—tapi sebuah ikatan yang akan selalu mereka jaga.



syukakk ceritanyaa dehh
BalasHapus